Warga Kodasari Tutup Akses Jalan Masuk Sumur Pertamina

Fajarnews, MAJALENGKA- Puluhan warga Desa Kodasari, Kecamatan Ligung, Kabpaten Majalengka, Jumat sore (21/9)  menutup akses jalan menuju sumur Pertamina. 

Tak hanya itu tiga unit kendaraan besar yang membawa alat-alat berat milik rekanan pertamina yakni  PT General Buditekindo yang akan melakukan pekerjaan servis sumur pertamina yang ada di Desa Kodasari dihentikan paksa.

Penutupan akses jalan tersebut buntut kekecewaan warga terhadap pihak Pertamina yang selama ini tidak ada kompensasi apapun dari pihak Pertamina kepada warga setempat. 

Informasi yang dihimpun fajarnews di lapangan penghentian kendaraan yang hendak melakukan servis sumur Pertamina tersebut bermula saat surat pemberitahuan dari salah satu  perusahaan rekanan Pertamina yang akan melakukan perkerjaan servis sumur.

Namun surat pemberitahuan tersebut ditolak oleh pihak pemdes, dengan alasan pemdes menginginkan duduk bersama antara pemdes, lembaga desa, karang taruna, tokoh masyarakat dan pihak pertamina. 

Tujuannya pemdes hanya ingin kejelasan atas CSR yang sudah enam tahun kebelakang tidak pernah diterimanya.

"Kami tidak pernah menghalang-halangi pihak pertamina melakukan aktivitas, toh selama ini pertamina bisa melakukan aktivitas usahanya dengan nyaman. Namun semakin kesini pihak pertamina mengabaikan keluhan warga. Ini terbukti sampai saat ini pihak pertamina tidak pernah mau berembug satu meja dengan kami untuk menyelesaikan permasalahan," ujar Kades Kodasari, Sugianto, Jumat pagi (21/9) sebelum terjadi aksi.

Enam tahun kebelakang, kata dia, Pemdes Kodasari  selalu menerima kompensasi CSR baik berupa bantuan dana maupun rutilahu dan kompensasi yang lainnya. Tapi semenjak 2013 CSR tersebut hilang entah kemana.

"Dari itu pemdes ingin duduk bersama dengan pihak pertamina agar permasalahan menjadi jelas, kemana larinya CSR, masih ada ataupun sudah tidak ada," tegasnya.

Sementara itu diujung perbatasan Desa Kodasari, jumat sore menjelang magrib, puluhan warga bersama pamong desa memberhentikan iring-iringan tiga unit kendaraan besar yang akan memasuki area pertamina. 

Di sana terjadi adu argumentasi antara warga dengan perusahaan rekanan pertamina. Dari baju pekerja yang dikenakan terlihat tulisan PT General Buditekindo.

Rudi selaku Sekdes Kodasari bersikukuh kendaraan berat yang akan melakukan perkerjaan di sumur pertamina jangan dulu masuk sebelum terjadi musyawarah antara warga dan pihak pertamina. 

Namun dari perwakilan pekerja memohon tiga unit kendaraan yang membawa alat-alat servis pertamina ini masuk terlebih dahulu sambil menunggu kesepakatan, tetapi warga tetap menolaknya. 

Alhasil dari rundingan yang alot itu, tiga unit pertama dibolehkan warga untuk masuk, tapi kendaraan selanjutnya yang ada dibelakannya dilarang masuk sebelum terjadi kesepakatan antara pihak pertamina dan warga.

"Untuk menjaga sesuatu hal yang tidak diinginkan tiga unit pertama boleh lewat, tapi untuk kendaraan berat selanjutnya warga menolak sebelum ada kesepakatan," ujar Sekdes Rudi dengan nada terlihat kesal.

Sementara itu, Ketua Karang Taruna Desa Kodasari, Saprudin mengatakan, pemblokiran ini puncak dari kekesalan warga terhadap pertamina, yang selama ini tidak pernah peduli terhadap warga setempat. 

"Bertahun tahun pertamina melakukan aktivitasnya di sini, langsung dan tidak langsung warga setempat banyak yang dirugikan. Mulai dari kebisingan, polusi, rusaknya pepohonan akibat keluar masuk kendaraan besar dan yang lainnya. Sementara kompensasi buat warga setempatnya tidak ada, jadi wajar saja manakala hari ini warga melakukan pemblokiran," ujar Saprudin yang diiyakan para pemuda yang lainnya.

Sementara itu, pihak PT General Buditekindo yang akan melakukan servis di sumur pertamina, tidak bersedia dimintai keterangan terkait penutupan jalan menuju lokasi sumur pertamina. Dia hanya mengarahkan awak media untuk meminta keterangannya kepada pihak pertamina atas kejadian ini.

"Saya tidak berhak untuk berkomentar masalah ini, silakan ke pihak pertamina saja," pungkas pekerja yang diketahui bernama Wiliam S. Siregar.

Pantauan fajarnews, sampai tengah malam puluhan warga Desa Kodasari tetap bertahan di perbatasan desa untuk berjaga manakala ada mobil atau alat berat milik pertamina yang akan masuk. 

Mereka tetap dengan keinginannya agar warga dan pihak pertamina bisa duduk bersama sebelum aktivita pekerjaan pertamina dimulai. (Munadi)