Terusik dengan Keberadaan Masjid, Seorang Warga Tembok Pintu Masjid

Fajarnews, CIREBON- Tak ingin tanah yang selama ini ditempatinya terusik dengan keberadaan masjid, seorang warga di Blok Sirnabaya, Desa Kebonturi, Kecamatan Arjawinangun, Kabupaten Cirebon, sengaja memasang tembok pondasi di depan pintu sebuah masjid yang tengah dibangun.

Akibatnya, pembangunan Masjid Bani Ma’mun pun terancam sia-sia. Pasalnya, pintu gerbang masjid tertutup bangunan lain sehingga akan menyulitkan akses jemaah yang akan beraktivitas.   

Keterangan yang berhasil dihimpun fajarnews menyebutkan, persoalan itu dipicu sikap warga yang selama ini memanfaatkan tanah yang bersebelahan dengan masjid yang tengah dibangun tersebut. Padahal, tanah itu sejatinya milik PG Rajawali, namun telah puluhan tahun dimanfaatkan keluarga H Fatimah.

Sehingga, yang bersangkutan merasa diberikan hak penuh untuk memanfaatkan tanah tersebut, termasuk membangun tembok untuk menutupi akses menuju masjid.

Kuwu Desa Kebonturi Subur mengakui, tanah yang di atasnya tengah dibangun masjid merupakan milik keluarga H Ma’mun. Menurutnya, pembangunan masjid itu bermasalah karena tetangga yang selama ini memanfaatkan tanah di sebelah masjid membangun tembok di pintu masuk sebagai bentuk protes.  

Sebagai pemerintah desa, Subur mengaku sudah beberapa kali memfasilitasi antara pemilik masjid H. Ma’mun dengan kelurga H Fatimah untuk berdamai. Namun upaya itu hingga kini belum membuahkan hasil. 

“Sebelum adanya bangunan masjid, tanah tersebut sudah ditempati keluarga Hj Fatimah dan mereka membuat warung disitu. Kalau tanahnya sih milik PG Rajawali, tapi sudah puluhan tahun berdiri warung-warung itu,” kata Subur, Selasa (13/11).

Menurutnya, akibat adanya pembangunan masjid warung-warung itu tergusur. Hal itu membuat keluarga H Fatimah tidak terima.

“Meski tanah yang dibuat warung-warung bukan tanah pribadi tetapi milik PG Rajawali, namun karena kebaikan H. Ma’mun dan kelurganya mau memberikan ganti rugi yang sangat besar yakni sebesar Rp 20 juta yang diberikan kepada kakak dari Hj. Fatimah yang disaksikan pemerintah desa,” katanya.

Namun, H Fatimah tidak terima dan membangun tembok di pintu masjid sebagai bentuk protes.

Lanjutnya pihak pemdes saat ini hanya bisa memfasilitasi saja meski sampai saat ini belum ada titik temu sehingga mediasi akan kembali dilakukan pada Kamis (15/11) mendatang. Menurutnya kalau sampai  nanti belum juga ada titik temu pihaknya akan mempersilakan proses hukum untuk kedua belah pihak.

Sementara Hj Fatimah saat dikonfirmasi dengan tegas mengatakan akan tetap mendirikan bangunan di depan pintu masjid tersebut, karena tanah itu sudah ditempatinya sebelum adanya bangunan masjid. Ia juga akan tetap memperjuangkan tanah tersebut.

“Ini kesewenangan orang kaya, pemilik masjid itu orang kaya jadi sewenang-wenang kelakuannya terhadap warga miskin seperti saya. Ya saya akui ini tanah bukan tanah pribadi milik saya tetapi milik PG Rajawali, namun puluhan tahun saya sudah menempatinya dengan membuat warung dan itu sudah dibolehkan oleh pihak Rajawali,” kata Fatimah.

Ia mengaku sudah hampir 50 tahun lebih menempati tanah itu dan membuat warung di atasnya. “Sekarang setelah ada masjid mengapa saya harus tersingkirkan,” tanya dia. (Adhe)